Customer Relationship Management

Sasaran dan Tujuan

Sasaran utama dari CRM adalah untuk meningkatkan pertumbuhan jangka panjang dan profitabilitas perusahaan melalui pengertian yang lebih baik terhadap kebiasaan (behavior) pelanggan. CRM bertujuan untuk menyediakan umpan balik yang lebih efektif dan integrasi yang lebih baik dengan pengendalian return on investment (ROI) di area ini.

Otomasi Tenaga Penjualan (Sales force automation/SFA), yang mulai tersedia pada pertengahan tahun 80-an adalah komponen pertama dari CRM. SFA membantu para sales representative untuk mengatur account dan track opportunities mereka, mengatur daftar kontak yang mereka miliki, mengatur jadwal kerja mereka, memberikan layanan training online yang dapat menjadi solusi untuk training jarak jauh, serta membangun dan mengawasi alur penjualan mereka, dan juga membantu mengoptimalkan penyampaian informasi dengan news sharing.SFA, pusat panggilan (bahasa inggris:call center) dan operasi lapangan otomatis ada dalam jalur yang sama dan masuk pasaran pada akhir tahun 90-an mulai bergabung dengan pasar menjadi CRM. Sama seperti ERP (bahasa Inggris:Enterprise Resource Planning), CRM adalah sistem yang sangat komprehensif dengan banyak sekali paket dan pilihan.

Merujuk kepada Glen Petersen, penulis buku “ROI: Building the CRM Business Case,” sistem CRM yang paling sukses ditemukan dalam organisasi yang menyesuaikan model bisnisnya untuk profitabilitas, bukan hanya merancang ulang sistem informasinya.

CRM mencakup metoda dan teknologi yang digunakan perusahaan untuk mengelola hubungan mereka dengan pelanggan. Informasi yang disimpan untuk setiap pelanggan dan calon pelanggan dianalisa dan digunakan untuk tujuan ini. Proses otomasi dalam CRM digunakan untuk menghasilkan personalisasi pemasaran otomatis berdasarkan informasi pelanggan yang tersimpan di dalam sistem.

Fungsi-fungsi dalam CRM

Sebuah sistem CRM harus bisa menjalankan fungsi:

  • Mengidentifikasi faktor-faktor yang penting bagi pelanggan.
  • Mengusung falsafah customer-oriented (customer centric)
  • Mengadopsi pengukuran berdasarkan sudut pandang pelanggan
  • Membangun proses ujung ke ujung dalam melayani pelanggan
  • Menyediakan dukungan pelanggan yang sempurna
  • Menangani keluhan/komplain pelanggan
  • Mencatat dan mengikuti semua aspek dalam penjualan
  • Membuat informasi holistik tentang informasi layanan dan penjualan dari pelanggan.

Mengimplementasikan CRM

Customer relationship management adalah strategi tingkat korporasi, yang berfokus pada pembangunan dan pemeliharaan hubungan dengan pelanggan. Beberapa paket perangkat lunak telah tersedia dengan pendekatan yang berbeda-beda terhadap CRM. Bagaimanapun, CRM bukanlah teknologi itu sendiri, tapi ia adalah pendekatan holistik terhadap falsafah organisasi, yang menekankan hubungan yang erat dengan pelanggan. CRM mengurus filosofi organisasi pada semua tingkatan, termasuk kebijakan dan proses, customer service, pelatihan pegawai, pemasaran, dana manajemen sistem dan informasi. Sistem CRM mengintegrasikan pemasaran, penjualan, dan customer service dari ujung ke ujung.

Permasalahan Implementasi CRM

Naiknya pendapatan, kepuasan konsumen, dan lebih sedikitnya biaya operasi adalah beberapa keuntungan dari teknologi pada sebuah perusahaan. Namun implementasi akan turun drastis jika salah satu dari aspek ini diabaikan:

  • Perencanaan: Langkah awal akan bisa dengan mudah gagal jika usaha untuk memilih dan meluncurkan perangkat lunak tidak maksimal.
  • Integrasi: Integrasi dengan kebutuhan konsumen akan memenuhi kebutuhan yang amat penting, yaitu peningkatan proses menyangkut klien/konsumen. Perusahaan yang memberi sedikit atau tidak ada integrasi sama sekali dengan konsumen, akan membuat kepuasan konsumen menurun secara drastis.
  • Pemecahan Masalah: menyingkirkan metode pemecahan masalah yang dipusatkan pada satu pihak. Para ahli menyarakan perusahaan2 agar meningkatkan integrasi dengan konsumen. Metode pemecahan masalah yang bersifat sentralis harus dibuang demi berbagi informasi tentang pemasaran, penjualan, dan servis
Posted in Uncategorized | Leave a comment

DEPARTEMEN SISTEM INFORMASI

DEPARTEMEN SISTEM INFORMASI

 

Lokasi sistem informasi di dalam suatu organisasi belum ada kesepakatan.

Ada yang memisahkan dalam departemen sendiri, yaitu departemen sistem

informasi dan ada yang menggabungnya dengan departemen lain, misalnya

dengan departemen akuntansi yang dibawah koordinasi oleh controller (kepala

eksekutif/manajer tingkat atas akuntansi yang mempunyai fungsi perencanaan,

pengendalian, pelaporan, akuntansi, dan tanggungjawab penting lainnya).

Jika departemen sistem informasi dibawah controller bersama-sama dengan

departemen akuntansi, biasanya departemen sistem informasi hanya terbatas

pada pengolahan data elektronik saja dengan struktur organisasi tampak

sebagai berikut :

 

               +———–+

               :  Direktur :

               :   Utama   :

               +———–+

                     |

       +————-+————-+

       |             |             |

 +———–+  +———-+  +———-+

 :  Direktur :  : Direktur :  :Controller:

 : Pemasaran :  : Produksi :  :          :

 +———–+  +———-+  +———-+

                                   |

       +————-+————-+————–+————+

       |             |             |              |            |

 +———–+  +———-+  +———-+  +———-+  +———-+

 : Internal  :  : Akuntansi:  : Akuntansi:  :   PDE    :  : Anggaran :

 :   Audit   :  : Keuangan :  :   Biaya  :  :          :  :          :

 +———–+  +———-+  +———-+  +———-+  +———-+

 

       Gambar 2.3 : Controller membawahi akuntansi dan PDE

 

Pengaturan seperti ini mempunyai beberapa keuntungan sebagai berikut :

1. Perubahan dari sistem manual ke sistem komputer dengan diterapkannya

   departemen PDE tidak terlalu mengejutkan dan mudah diterima karena bukan

   merupakan departemen yang terpisah.

2. Peranan dan fungsi pengolahan akuntansi dan pelaporan keuangan terpusat

   dengan PDE sehingga fungsi dari akuntansi yang bertanggungjawab terhadap

   pengolahan transaksi serta penyediaan informasi keuangan kepada manajer

   fungsi yang lainnya dan kepada piahk luar lebih efektif.

3. Karena keberhasilan aplikasi komputer didalam kegiatan akuntansi seperti

   misalnya penggajian, piutang dagang dan pengendalian persediaan merupakan

   tanggungjawab akuntan sedang akuntan terlibat langsung didalamnya, maka

   diharapkan pengembangan aplikasi tersebut dapat lebih mengena.

Faktor yang perlu diperhatikan dalam bentuk struktur organisasi demikian

adalah tentang peranan controller bersangkutan. Jika controller betul-betul

memahami dan menguasai teknologi pengolahan data elektronik, hal ini tidak

menjadi masalah. Kekuatiran lebih lanjut adala bahwa data yang diolah

mungkin tidak hanya data mengenai akuntansi saja, tetapi juga data lain

yang non-akuntansi, sehingga pengetahuan controller mengenai masalah lainnya

juga harus cukup. Di beberapa organisasi, fungsi sistem informasi atau PDE

diorganisasikan secara terpisah dari fungsi akuntansi dan dibawah

tanggungjawab manajer tersendiri, yaitu manajer PDE atau manajer sistem

informasi.

 

                             +———–+

                             :  Direktur :

                             :   Utama   :

                             +———–+

                                   |

       +————-+————-+————–+————-+

       |             |             |              |             |

 +———–+  +———-+  +———-+  +———-+  +———-+

 :  Direktur :  : Direktur :  : Direktur :  :Controller:  : Direktur :

 : Pemasaran :  : Produksi :  :Personalia:  :          :  :    PDE   :

 +———–+  +———-+  +———-+  +———-+  +———-+

 

           Gambar 2.4 : Fungsi PDE tidak dibawah controller

 

Alasan bahwa departemen sistem informasi atau disebut dengan departemen PDE

berdiri sendiri tidak dibawah controller adalah karena departemen PDE

sebagai service departemen tidak hanya mengolah data akuntansi saja, tetapi

juga mengolahdata non-akuntansi (ingat sistem informasi manajemen, sedang

SIA hanya subsistem dari SIM). Ada pendapat jika lokasi departemen PDE

dibawah controller, informasi keuangan cenderung mendominasi sistem ini,

karena controller akan lebih menekankan pada masalah-masalah keuangan saja,

sebagai akibatnya bagian-bagian lainnya dalam organisasi akan tidak puas

terhadap kebutuhan-kebutuhan informasinya. Dengan memisahkan fungsi sistem

informasi (PDE) dibawah tanggungjawab manajer sistem informasi, maka semua

aspek yang berhubungan dengan pengolahan data akan dapat dilaksanakan

dengan lebih efektif, karena pengetahuan manajer PDE sebagai spesialis

dibidangnya lebih baik dibandingkan dengan controller. Untuk organisasi

yang kecil, departemen PDE hanya terdiri daru sejumlah kecil personil-

personil yang bertanggungjawab hanya untuk mengoperasikan peralatan-

peralatan komputer saja.

 

                             +———–+

                             :  Manajer  :

                             :    PDE    :

                             +———–+

                                   |

                     +————-+————-+

                     |             |             |     

               +———–+  +———-+  +———-+

               :   Analis  :  :Pemrogram :  : Operator :

               :   Sistem  :  :          :  :          :

               +———–+  +———-+  +———-+

 

            Gambar 2.5 : Organisasi departemen PDE yang kecil

 

Departemen in hanya terdiri dari beberapa fungsi saja, yaitu analis sistem,

programmer dan operator. Bahkan untuk perusahaan yang lebih kecil lagi,

analis sistem dan programmer tidak diperlukan, karena menggunakan program-

program yang sudah jadi dalam bentuk paket. Dalam organisasi departemen PDE

uang lebih besar, masing-masing fungsi tersebut dapat dilakukan oleh ratusan

personil. Bila organisasi PDE telah berkembang sedemikian rupa, maka masing-

masing fungsi dalam departemen PDE harus diatur kembali dan dibagi-bagi lagi

menjadi beberapa fungsi yang penting.  

 

 

                          +———–+

                          :  Direktur :

                          :   Utama   :

                          +———–+

                                |

       +———-+————-+———-+———————–+

       |          |             |          |                       |

 +———+ +———+ +———-+ +———+             +———-+

 : Manajer : : Manajer : : Database : : Manajer :             :  Manajer :

 :  Analis : : Pemogram: :Administra: : Operasi :             :Komunikasi:

 :  Sistem : :         : :   tor    : :         :             :          :

 +———+ +———+ +———-+ +———+             +———-+

       |          |                        |                       |

       |          |           +————+————+          |

       |          |           |            |            |          |

 +———+ +———+ +———-+  +———+ +———+ +———-+

 : Kepala  : : Kepala  : :  Kepala  :  : Kepala  : : Kepala  : :Komunikasi:

 : Pengope : :Pemogram : : Pengawas :  : Pemasuk : :Librarian: :  Data    :

 : rasi AS : :         : :   Data   :  :  Data   : :         : :          :

 +———+ +———+ +———-+  +———+ +———+ +———-+

       |          |           |            |            | 

       |          |           |            |            |

 +———+ +———+ +———-+  +———+ +———+

 : Analis  : :Pemogram : : Pengawas :  : Pemasuk : :Librarian:

 : Sistem  : : Senior  : :   Data   :  :  Data   : :         :

 : Senior  : :         : :          :  :         : :         :

 +———+ +———+ +———-+  +———+ +———+

       |          |

       |          |

 +———+ +———+

 : Analis  : :Pemogram :

 : Sistem  : : Yunior  :

 : Yunior  : :         :

 +———+ +———+

 

           Gambar 2.6 : Organisasi departemen PDE yang besar

 

 

Daftar Pustaka

 

1. Davis, William S., Systems Analysis And Design : A Structured Approach,

   Addison-Wesley Publishing Company, 1983.

2. HM., Yogiyanto, Analisis dan Disain Sistem Informasi : Pendekatan

   Terstruktur, Penerbit Andi Offset, Yogyakarta, 1995.

3. Lucas JR, Henry C., Analisis, Desain, Dan Implementasi Sistem Informasi,

   Penerbit Erlangga, Edisi Tiga, Jakarta, 1987.

4. Martin, Merle P., Analysis And Design of Business Information Sytems,

   Macmillan Publishing Company, New York, 1991.

http://kuliah.dinus.ac.id/ika/asi21.html

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Supply Chain Management

Supply Chain Management

Supply Chain merupakan suatu rangkaian proses-proses dan aliran yang terjadi didalam dan diantara tahapan rantai pasok yang berbeda dan berkombinasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan atas suatu produk. Konsep supply chain ini mengintegrasikan secara efisien antara pemasok, perusahaan manufaktur, pergudangan, dan toko, sehingga barang yang diproduksi dan didistribusi dengan kualitas yang tepat, lokasi yang tepat, dan waktu yang tepat, untuk meminimumkan biaya-biaya pada kondisi yang memuaskan kebutuhan tingkat pelayanan.

Supply chain management (SCM) adalah filosofi management yang secara terus-menerus mencari sumber-sumber fungsi bisnis yang kompeten untuk digabungkan baik dalam perusahaan maupun luar perusahaan seperti mitra bisnis yang berada dalam satu supply chain untuk memasuki sistem supply yang berkompetitif tinggi dan memperhatikan kebutuhan pelanggan, yang berfokus pada pengembangan solusi inovatif dan sinkronisasi aliran produk, jasa, dan informasi untuk menciptakan sumber nilai pelanggan (customer value) secara unik. Dengan memanfaatkan supply chain management, suatu perusahaan akan mendapatkan banyak manfaat, seperti yang disebutkan Peter J Metrz dalam “Demystifying Supply Chain Management” terlihat pada Gambar II.1

 

Terkadang Supply chain management ini disamakan dengan Manajemen logistik, tetapi sebenarnya ada perbedaan yang cukup mendasar antara supply chain management dengan manajemen logistik yaitu terletak pada orientasi atau cara pandang. Manajemen logistik lebih memfokuskan pada pengoptimalan rencana orientasi dan kerangka kerja berupa pembuatan rencana tunggal untuk aliran produk dan informasi di dalam perusahaan sedangkan supply chain management merasa tidak cukup hanya integrasi dibagian dalam saja, tetapi juga bagian luar perusahaan yang meliputi supplier dan pelanggan.

Salah satu bagian dalam supply chain management yang penting adalah bagian procurement. Bagian ini yang melakukan pengadaan barang ataupun jasa yang akan digunakan dalam aktivitas perusahaan. Jika suatu perusahaan dapat mengontrol proses pengadaan barang atau jasa, maka dapat dipastikan perusahaan tersebut dapat lebih efisien dalam penggunaan dana.

Sumber:
PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PEMILIHAN DAN EVALUASI SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE AHP DI PT GLOSTAR INDONESIA

MEYLISA RAHARJENG (112071042)

Library IT TELKOM Bandung

http://digilib.ittelkom.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=953:definisi-supply-chain-management-&catid=25:industri&Itemid=14

Manajemen rantai suplai

Manajemen Rantai Suplai (Supply chain management) adalah sebuah ‘proses payung’ di mana produk diciptakan dan disampaikan kepada konsumen dari sudut struktural. Sebuah supply chain (rantai suplai) merujuk kepada jaringan yang rumit dari hubungan yang mempertahankan organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi dalam menyampaikan kepada konsumen. (Kalakota, 2000, h197)

Tujuan yang hendak dicapai dari setiap rantai suplai adalah untuk memaksimalkan nilai yang dihasilkan secara keseluruhan (Chopra, 2001, h5). Rantai suplai yang terintegrasi akan meningkatkan keseluruhan nilai yang dihasilkan oleh rantai suplai tersebut.

Pengertian

Manajemen Rantai Suplai adalah koordinasi dari bahan, informasi dan arus keuangan antara perusahaan yang berpartisipasi. Manajemen rantai suplai bisa juga berarti seluruh jenis kegiatan komoditas dasar hingga penjualan produk akhir ke konsumen untuk mendaur ulang produk yang sudah dipakai.

  • Arus material melibatkan arus produk fisik dari pemasok sampai konsumen melalui rantai, sama baiknya dengan arus balik dari retur produk, layanan, daur ulang dan pembuangan.
  • Arus informasi meliputi ramalan permintaan, transmisi pesanan dan laporan status pesanan, arus ini berjalan dua arah antara konsumen akhir dan penyedia material mentah.
  • Arus keuangan meliputi informasi kartu kredit, syarat-syarat kredit, jadwal pembayaran dalam penetapan kepemilikandan pengiriman. (Kalakota, 2000, h198)

Menurut Turban, Rainer, Porter (2004, h321), terdapat 3 macam komponen rantai suplai, yaitu:

  • Rantai Suplai Hulu/Upstream supply chain

Bagian upstream (hulu) supply chain meliputi aktivitas dari suatu perusahaan manufaktur dengan para penyalurannya (yang mana dapat manufaktur, assembler, atau kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada pada penyalur mereka (para penyalur second-trier). Hubungan para penyalur dapat diperluas kepada beberapa strata, semua jalan dari asal material (contohnya bijih tambang, pertumbuhan tanaman). Di dalam upstream supply chain, aktivitas yang utama adalah pengadaan.

  • Manajemen Internal Suplai Rantai/Internal supply chain management

Bagian dari internal supply chain meliputi semua proses pemasukan barang ke gudang yang digunakan dalam mentransformasikan masukan dari para penyalur ke dalam keluaran organisasi itu. Hal ini meluas dari waktu masukan masuk ke dalam organisasi. Di dalam rantai suplai internal, perhatian yang utama adalah manajemen produksi, pabrikasi, dan pengendalian persediaan.

  • Segmen Rantai Suplai Hilir/Downstream supply chain segment

Downstream (arah muara) supply chain meliputi semua aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam downstream supply chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi, dan after-sales-service.

Permasalahan Manajemen Suplai Rantai

Manajemen suplai rantai harus memasukan problem dibawah:

  • Distribusi Konfigurasi Jaringan: Jumlah dan lokasi supplier, fasilitas produksi, pusat distribusi ( distribution centre/D.C.), gudang dan pelanggan.
  • Strategi Distribusi: Sentralisasi atau desentralisasi, pengapalan langsung, Berlabuh silang, strategi menarik atau mendorong, logistik orang ke tiga.
  • Informasi: Sistem terintregasi dan proses melalui rantai suplai untuk membagi informasi berharga, termasuk permintaan sinyal, perkiraan, inventaris dan transportasi dsb.
  • Manajemen Inventaris: Kuantitas dan lokasi dari inventaris termasuk barang mentah, proses kerja, dan barang jadi.
  • Aliran dana: Mengatur syarat pembayaran dan metodologi untuk menukar dana melewati entitas di dalam rantai suplai.

Eksekusi rantai suplai ialah mengatur dan koordinasi pergerakan material, informasi dan dana di antara rantai suplai tersebut. Alurnya sendiri dua arah.

Aktivitas/Fungsi

Manajemen rantai suplai ialah pendekatan antar-fungsi (cross functional) untuk mengatur pergerakan material mentah kedalam sebuah organisasi dan pergerakan dari barang jadi keluar organisasi menuju konsumen akhir. Sebagaimana korporasi lebih fokus dalam kompetensi inti dan lebih fleksibel, mereka harus mengurangi kepemilikan mereka atas sumber material mentah dan kanal distribusi. Fungsi ini meningkat menjadi kekurangan sumber ke perusahaan lain yang terlibat dalam memuaskan permintaan konsumen, sementara mengurangi kontrol manajemen dari logistik harian. Pengendalian lebih sedikit dan partner rantai suplai menuju ke pembuatan konsep rantai suplai. Tujuan dari manajemen rantai suplai ialah meningkatkan ke[percayaan dan kolaborasi di antara rekanan rantai suplai, dan meningkatkan inventaris dalam kejelasannya dan meningkatkan percepatan inventori.

Secara garis besar, fungsi manajemen ini bisa dibagi tiga, yaitu distribusi, jejaring dan perencaan kapasitas, dan pengembangan rantai suplai.[1]

beberapa model telah diajukan untuk memahami aktivitas yang dibutuhkan untuk mengatur pergerakan material di organisasi dan batasan fungsional. SCOR adalah model manajemen rantai suplai yang dipromosikan oleh Majelis Manajemen Rantai Suplai. Model lain ialah SCM yang diajukan oleh Global Supply Chain Forum (GSCF). Aktivitas suplai rantai bisa dikelompokan ke tingkat strategi, taktis, dan operasional.

Strategis

  • Optimalisasi jaringan strategis, termasuk jumlah, lokasi, dan ukuran gudang, pusat distribusi dan fasilitas
  • Rekanan strategis dengan pemasok suplai, distributor, dan pelanggan, membuat jalur komunikasi untuk informasi amat penting dan peningkatan operasional seperti cross docking, pengapalan langsung dan logistik orang ketiga
  • Rancangan produk yang terkoordinasi, jadi produk yang baru ada bisa diintregasikan secara optimal ke rantai suplai,manajemen muatan
  • Keputusan dimana membuat dan apa yang dibuat atau beli
  • Menghubungkan strategi organisasional secara keseluruhan dengan strategi pasokan/suplai

Taktis

  • Kontrak pengadaan dan keputusan pengeluaran lainnya
  • Pengambilan Keputusan produksi, termasuk pengontrakan, lokasi, dan kualitas dari inventori
  • Pengambilan keputusan inventaris, termasuk jumlah, lokasi, penjadwalan, dan definisi proses perencanaan.
  • Strategi transportasi, termasuk frekuensi, rute, dan pengontrakan
  • Benchmarking atau pencarian jalan terbaik atas semua operasi melawan kompetitor dan implementasi dari cara terbaik diseluruh perusahaan
  • Gaji berdasarkan pencapaian

Operasional

  • Produksi harian dan perencanaan distribusi, termasuk semua hal di rantai suplai
  • Perencanaan produksi untuk setiap fasilitas manufaktru di rantai suplai (menit ke menit)
  • Perencanaan permintaan dan prediksi, mengkoordinasikan prediksi permintaan dari semua konsumen dan membagi prediksi dengan semua pemasok
  • Perencanaan pengadaan, termasuk inventaris yang ada sekarang dan prediksi permintaan, dalam kolaborasi dengan semua pemasok
  • Operasi inbound, termasuk transportasi dari pemasok dan inventaris yang diterima
  • Operasi produksi, termasuk konsumsi material dan aliran barang jadi (finished goods)
  • Operasi outbound, termasuk semua aktivitas pemenuhan dan transportasi ke pelanggan
  • Pemastian perintah, penghitungan ke semua hal yang berhubungan dengan rantai suplai, termasuk semua pemasok, fasilitas manufaktur, pusat distribusi, dan pelanggan lain

Strukturisasi dan Tiering

Jika dilihat lebih dekat pada apa yang terjadi dalam kenyataannya, istilah rantai suplai mewakili sebuah serial sederhana dari hubungan antara komoditas dasar dan produk akhir. Produk akhir membutuhkan material tambahan kedalam proses manufaktur.

Arus Material dan Informasi

Tujuan dalam rantai suplai ialah memastikan material terus mengalir dari sumber ke konsumen akhir. Bagian-bagian (parts) yang bergerak di dalam rantai suplai haruslah berjalan secepat mungkin. Dan dengan tujuan mencegah terjadinya penumpukan inventori di satu lokal, arus ini haruslah diatur sedemikian rupa agar bagian-bagian tersebut bergerak dalam koordinasi yang teratur. Istilah yang sering digunakan ialah synchronous. (Knill, 1992)

tujuannya selalu berlanjut, arus synchronous. Berlanjut artinya tidak ada interupsi, tidak ada bola yang jatuh, tidak ada akumulasi yang tidak diperlukan. Dan synchronous berarti semuanya berjalan seperti balet. Bagian-bagian dan komponen-komponen dikirim tepat waktu, dalam sekuensi yang seharusnya, sama persis sampai titik yang mereka butuhkan.

Terkadang sangat susah untuk melihat sifat arus “akhir ke akhir” dalam rantai suplai yang ada. Efek negatif dari kesulitan ini termasuk penumpukan inventori dan respon tidak keruan pada permintaan konsumen akhir. Jadi, strategi manajemen membutuhkan peninjauan yang holistik pada hubungan suplai.

Teknologi informasi memungkinkan pembagian cepat dari data permintaan dan penawaran. Dengan membagi informasi di seluruh rantai suplai ke konsumen akhir, kita bisa membuat sebuah rantai permintaan, diarahkan pada penyediaan nilai konsumen yang lebih. Tujuannya ialha mengintegrasikan data permintaan dan suplai jadi gambaran yang akuarasinya sudah meningkatdapat diambil tentang sifat dari proses bisnis, pasar dan konsumen akhir. Integrasi ini sendiri memungkinkan peningkatan keunggulan kompetitif. Jadi dengan adanya integrasi ini dalam rantai suplai akan meningkatkan ketergantungan dan inventori minimum.

Referensi

  • Operation Management, John Naylor
  • Logistic and Supply Chain, Harrison

http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_rantai_suplai

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BISNIS PROSES

PROSES BISNIS (BUSINESS PROCESS)

Pengertian Proses Bisnis

Proses bisnis (business process) dapat didefinisikan sebagai kumpulan dari proses dan berisi kumpulan aktifitas (tasks) yang saling berelasi satu sama lain untuk menghasilkan suatu keluaran yang mendukung pada tujuan dan sasaran strategis dari organisasi.

Suatu proses bisnis yang baik harus memiliki tujuan-tujuan seperti mengefektifkan, mengefisienkan dan membuat mudah untuk beradaptasi pada proses-proses didalamnya. Artinya proses bisnis tersebut harus merupakan proses bisnis yang berorientasikan pada jumlah dan kualitas produk output, minimal dalam menggunakan sumber daya dan dapat beradaptasi sesuai dengan kebutuhan bisnis dan pasar.

Proses bisnis adalah suatu kumpulan aktivitas atau pekerjaan terstruktur yang saling terkait untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu atau yang menghasilkan produk atau layanan (demi meraih tujuan tertentu). Suatu proses bisnis dapat dipecah menjadi beberapa subproses yang masing-masing memiliki atribut sendiri tapi juga berkontribusi untuk mencapai tujuan dari superprosesnya. Analisis proses bisnis umumnya melibatkan pemetaan proses dan subproses di dalamnya hingga tingkatan aktivitas atau kegiatan.

Menurut Davenport (1993) mendefinisikan proses bisnis itu sebagai,“aktivitas yang terukur dan terstruktur untuk memproduksi output tertentu untuk kalangan pelanggan tertentu. Terdapat di dalamnya penekanan yang kuat pada “bagaimana” pekerjaan itu dijalankan di suatu organisasi, tidak seperti fokus dari produk yang berfokus pada aspek “apa”. Suatu proses oleh karenanya merupakan urutan spesifik dari aktivitas kerja lintas waktu dan ruang, dengan suatu awalan dan akhiran, dan secara jelas mendefinisikan input dan output.”

Definisi dari Hammer dan Champy’s (1993) bisa dianggap merupakan turunan dari definisi Davenport. Mereka mendefinisikan proses sebagai, “kumpulan aktivitas yang membutuhkan satu atau lebih inputan dan menghasilkan output yang bermanfaat/bernilai bagi pelanggan”

Karakteristik proses bisnis

Beberapa karakteristik umum yang dianggap harus dimiliki suatu proses bisnis adalah:

  1. Definitif: Suatu proses bisnis harus memiliki batasan, masukan, serta keluaran yang jelas.
  2. Urutan: Suatu proses bisnis harus terdiri dari aktivitas yang berurut sesuai waktu dan ruang.
  3. Pelanggan: Suatu proses bisnis harus mempunyai penerima hasil proses.
  4. Nilai tambah: Transformasi yang terjadi dalam proses harus memberikan nilai tambah pada penerima.
  5. Keterkaitan: Suatu proses tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus terkait dalam suatu struktur organisasi.
  6. Fungsi silang: Suatu proses umumnya, walaupun tidak harus, mencakup beberapa fungsi.

Sering kali pemilik proses, yaitu orang yang bertanggung jawab terhadap kinerja dan pengembangan berkesinambungan dari proses, juga dianggap sebagai suatu karakteristik proses bisnis.

Tipe proses bisnis

Terdapat tiga jenis proses bisnis:

  1. Proses manajemen, yakni proses yang mengendalikan operasional dari sebuah sistem. Contohnya semisal Manajemen Strategis
  2. Proses operasional, yakni proses yang meliputi bisnis inti dan menciptakan aliran nilai utama. Contohnya semisal proses pembelian, manufaktur, pengiklanan dan pemasaran, dan penjualan.
  3. Proses pendukung, yang mendukung proses inti. Contohnya semisal akunting, rekruitmen, pusat bantuan.

Keuntungan proses bisnis

Pengelolaan bisnis proses yang baik akan memberikan keuntungan-keuntungan pada organisasi perusahaan yang banyak, yaitu :

  1. Organisasi dapat lebih memfokuskan diri pada kebutuhan customer.
  2. Organisasi mampu mengendalikan dan memprediksi setiap perubahan yang terjadi di lingkungan dalam ataupun luar.
  3. Organisasi mampu memperbaiki tingkat penggunaan sumber dayanya sehingga dapat menekan biaya pemakaian serendah mungkin.
  4. Organisasi dapat mengelola dengan baik interrelasi proses-proses antar bagian yang ada.

Keuntungannya adalah :

  • Organisasi dapat memonitor secara sistematik aktifitas-aktifitas pada setiap proses pada bisnis prosesnya.
  • Organisasi dapat dengan mudah menemukan kesalahan dalam proses dan memperbaikinya secepat mungkin.
  • Organisasi dapat memahami proses setiap perubahan input menjadi output pada bisnis prosesnya.
  • Organisasi mampu melakukan pengukuran pada setiap perubahan pada kondisi perusahaan.
  • Organisasi dapat memahami setiap proses dan metode dari proses yang benar.

Suatu proses bisnis adalah “satu rangkaian aktivitas yang diharapakan untuk memenuhi tujuan strategis dari suatu organisasi.”

  • Operating Events adalah suatu aktivitas operasi yang dilaksanakan di dalam proses bisnis untuk menyediakan barang dan jasa untuk konsumen.
  • Information Events termasuk tiga aktivitas : merekam data tentang kejadian operasi, pemeliharaan data referensi yang penting untuk organisasi, dan melaporkan informasi yang dibutuhkan untuk manajemen dan pengambil keputusan yang lain.
  • Decision/Management Events adalah aktivitas dimana manajemen dan orang lain membuat keputusan tentang perencanaan, pengawasan dan evaluasi proses bisnis.

 Penjualan Eceran Toko McKell’s Kasus Pos pemeriksaan —Aturan Bisnis

  • Masing-masing penjualan berlangsung pada specific register (lokasi).
  • Masing-masing penjualan melibatkan hanya one customer (agen eksternal).
  • Hanya one salesperson (agen internal) yang bertanggung jawab atas masing-masing penjualan.
  • Masing-masing penjualan melibatkan one or more items of merchandise (sumber daya).
  • Jenis barang dagangan McKell’s are not uniquely identified. Masing-masing kelengkapan barang dagangan mengacu pada jenis dan penggolongan dari barang dagangan (e.g. ukuran 12 T-shirt putih, atau ukuran 9 sepatu tennis putih, atau ukuran 5 sarung tangan kulit).
  • Tenaga penjual dan pelanggan tidak mempunyai hubungan langsung, sebab McKell tidak menugaskan pelanggan untuk tenaga penjual yang spesifik. Pelanggan dan tenaga penjual terkait hanya melalui penjualan

http://12puby.wordpress.com/2012/04/01/analisis-proses-bisnis/

http://id.wikipedia.org/wiki/Proses_bisnis

Posted in Uncategorized | Leave a comment

ENTERPRISE APPLICATION INTEGRATION

EAI singkatan dari Enterprise Application Integration. Ini adalah proses program aplikasi komputer perusahaan untuk meningkatkan fungsionalitas dan kinerja. Pada dasarnya EAI melakukan share data antara aplikasi. EAI dapat memiliki beberapa tujuan, dapat menghubungkan database, berbagi data dan menyediakan database cadangan dalam kasus suatu masalah yang timbul. EAI juga dapat menyediakan data penyimpanan, menyalurkan data dari beberapa database menjadi satu untuk digunakan secara optimal. Bisnis juga menggunakan EAI untuk menyelesaikan transaksi bisnis tunggal pada beberapa sistem.

Penggunaan yang paling inovatif EAI adalah untuk menciptakan sistem virtual umum. Dengan kata lain, EAI dapat berbaur serangkaian aplikasi dan/atau database ke satu mesin yang beroperasi kohesif. Hal ini tanpa diragukan lagi merupakan pilihan yang lebih kuat dari satu server yang beroperasi sendiri.

Mengapa perusahaan-perusahaan melakukan ini? Di antara alasan tersebut untuk mengambil keuntungan dari teknologi baru, seperti fungsi internet dan intranet. Terkait dengan ini adalah e-commerce dan komunikasi elektronik, seperti email dan konferensi video. Sebagian besar pengguna EAI merupakan bisnis besar yang memiliki persyaratan berbagi data besar.

Salah satu penggunaan terkenal EAI adalah dengan perusahaan kartu kredit dan badan pengawas lainnya yang tujuannya adalah untuk menangkap pencuri kartu kredit. EAI memungkinkan perusahaan-perusahaan secara efisien untuk melacak jutaan bit data dan menghubungkan data untuk tujuan tertentu. Penggunaan lain EAI populer adalah dengan lembaga keuangan yang ingin membantu pelanggan mereka menyelesaikan transaksi mata uang asing online.

Untuk membantu mengatur dan mensponsori penggunaan EAI, anggota perusahaan di seluruh dunia telah membentuk EAI Industry Consortium. EAIIC didedikasikan untuk mendapatkan hasil maksimal dari proses EAI sementara mereka juga berusaha menjamin bahwa praktek-pratek industri terbaik dapat diselenggarakan. EAI mulai digalakkan pada tahun 1990-an, sebagai usaha memenuhi kebutuhan solusi perangkat lunak terpadu untuk berbagi data mereka dan masalah integrasi.

http://agussale.com/apa-itu-enterprise-application-integration-eai

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BISNIS INTELIJEN

Intelijen bisnis

Istilah intelijen bisnis (bahasa Inggris: business intelligence, BI) merujuk pada teknologi, aplikasi, serta praktik pengumpulan, integrasi, analisis, serta presentasi informasi bisnis atau kadang merujuk pula pada informasinya itu sendiri. Tujuan intelijen bisnis adalah untuk mendukung pengambilan keputusan bisnis.

Sistem BI memberikan sudut pandang historis, saat ini, serta prediksi operasi bisnis, terutama dengan menggunakan data yang telah dikumpulkan ke dalam suatu gudang data dan kadang juga bersumber pada data operasional. Perangkat lunak mendukung penggunaan informasi ini dengan membantu ekstraksi, analisis, serta pelaporan informasi. Aplikasi BI menangani penjualan, produksi, keuangan, serta berbagai sumber data bisnis untuk keperluan tersebut, yang mencakup terutama manajemen kinerja bisnis. Informasi dapat pula diperoleh dari perusahaan-perusahaan sejenis untuk menghasilkan suatu tolok ukur.

Fungsi

Fungsi umum teknologi BI adalah reporting, OLAP (online analytical processing), data mining, business performance management, benchmarking, text mining dan predictive analytics.

Pendahuluan 

Business Intelligence sebagai bidang teknologi IT dengan perkembangan adopsi yang sangat pesat belakangan ini  tentunya menuntut pemahaman yang komprehensif baik di tingkat konsep maupun praktis, sehingga dapat dieksplorasi maupun diimplementasikan sebagai suatu solusi strategis dan kritis pada tingkat institusi, organisasi, perusahaan maupun pada tingkat individual. 

Artikel KampusBI.com berikut ini akan coba menyajikan overview mengenai Business Intelligence mulai dari definisi sampai dengan pembahasan komponen-komponen BI.

Apa itu Business Intelligence atau BI ?

Secara singkat, Business Intelligence atau lebih sering disingkat BI (baca: bi – ai) adalah seperangkat solusi sistem informasi yang dapat menuntun kepada percepatan pengambilan keputusan dalam tingkat akurasi yang tinggi (valid). 

Sebagai contoh, informasi yang dihasilkan adalah metrik performa aktual penjualan vs target penjualan (sales), pengeluaran vs anggaran (finance), analisa tren produksi vs tren permintaan (capacity planning), dan lain-lain.

Kenapa BI ?

Pengambilan keputusan memerlukan data dari sistem BI yang berasal dari kumpulan :

  • data faktual
  • data perencanaan 
  • maupun data prediksi

yang diolah menjadi informasi yang komprehensif – dan biasanya komparatif – sehingga dapat memberikan gambaran besar bahkan menyeluruh akan kondisi bisnis dan organisasi pada  : 

  • masa lalu.
  • masa kini.
  • dan tren ke masa depan. 

http://www.kampusbi.com/artikel/apa-itu-business-intelligence

http://id.wikipedia.org/wiki/Intelijen_bisnis

 

Intelijen Bisnis

 Dalam era persaingan yang makin mengganas, banyak cara harus dilakukan untuk tidak hanya tetap bertahan/survive, akan tetapi juga tumbuh dan menghasilkan profit. Keuntungan yang kita harus capai pun tidak cukup hanya sekedar untung, tapi harus signifikan agar dimungkinkan adanya ekspansi dan akuisisi. Tujuan persaingan sekarang tidak boleh dipandang sebagai pemacu agar bisa memberikan layanan yang baik saja. Tapi persaingan sekarang harus dipandang sebagai persaingan hidup dan mati. Siapa yang kuat, dia yang menang. Jangan ragu untuk menggunakan prinsip tersebut. Dalam persaingan, kita tidak boleh setengah-setengah. Karena itu akan menjadi titik lemah kita yang akan berakibat sangat fatal. Kekuatan, agresifitas dan totalitas dalam bersaing harus terus dipegang.

 Bisnis adalah perang. Bukan sebuah persahabatan atau persaudaraan yang segala sesuatu diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Semua ada harga dan perhitungan untung ruginya. Hanya ada 2 kata yang harus benar-benar diperhatikan dan dipahami dengan baik, yaitu “untung” atau “rugi”. Dengan kata lain, profesionalitas bisnis.

Kalau untung, kita tetap bertahan dan berkembang, kalau rugi kita mati. Seperti halnya dalam masa perang. Kita menang, kita selamat. Kita kalah, kita mati.

 Salah satu stretegi penting dalam dunia peperangan adalah intelijen. Kenapa dalam dunia bisnis memerlukan intelijen ? Berikut salah satu kutipan dari sebuah artikel bisnis di internet,

 

Business Week (Knotts, 1989) sempat menyampaikan bahwa terdapat 5.000 mata-mata perusahaan yang saat ini aktif terlibat dalam aktifitas intelijen, dan sembilan dari sepuluh perusahaan besar memiliki staf-staff yang sangat berdedikasi khusus untuk mengumpulkan intelijen kompetitif. Artikel ini pun mengatakan lebih lanjut bahwa banyak perusahaan besar AS yang telah menghabiskan lebih dari US$1 juta/tahun hanya untuk menelusuri pesaingnya. Bukti menyatakan bahwa manfaat dari memata-matai perusahaan justru meningkatkan pendapatan, menurunkan biaya dan memperbaiki pengambilan keputusan.”

(http://stie-ibek.ac.id/900node/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=10)

Lalu apa sebenarnya definisi inteligen bisnis itu sendiri ? Seperti yang sudah kita ketahui pada umumnya perusahaan-perusahaan besar di dunia melakukan proses seleksi, koleksi, interpretasi, dan distribusi informasi terbuka yang bisa diakses publik namun memiliki nilai penting bagi perusahaan. Usaha-usaha tersebut bisa kita istilahkan sebagai intelijen bisnis. Lebih jauh intelijen bisnis bisa kita definisikan sebagai berikut :

1.  Intelijen Bisnis adalah sebuah alternatif terminologi bagi Competitive Intelligence. Definisinya adalah kegiatan-kegiatan monitoring lingkungan eksternal sebuah perusahaan untuk mendapatkan informasi yang relevan bagi proses pembuatan kebijakan perusahaan tersebut.

2.  Istilah lain CI adalah Competitor Intelligence, yaitu proses analisa yang mentransformasikan keseluruhan competitor intelligence yang utuh menjadi pengetahuan strategis tentang kompetitor, posisi, performance, kapabilitas, dan niat/tujuan. Pengetahuan strategis tersebut harus relevan, akurat, dan bisa digunakan.

3.  Competitive Intelligence adalah sebuah cara berpikir (way of thinking).

4.  CI menggunakan sumber-sumber informasi publik untuk mengetahui lokasi dan membangun informasi tentang persaingan dan pesaing-pesaing yang ada.

5.  Competitor intelligence adalah informasi yang sangat spesifik dan tepat waktu tentang sebuah perusahaan.

(Richard Coombs, Competitive intelligence handbook. University Press of America, Bab I)

Jadi peran intelijen bisnis untuk saat ini memang dipandang perlu. Karena dinamika bisnis era sekarang sudah begitu cepat berkembang dan begitu ketat bersaing. Sehingga perubahan sekecil apapun dari lingkungan ekternal kita dan sesingkat apapun waktu berlangsungnya perubahan, akan berdampak besar terhadap kelangsungan bisnis sebuah perusahaan. Siapa yang cepat dan cerdas memanfaatkan waktu dan situasi dialah yang akan berkembang. Sebuah keputusan haruslah cepat, tepat dan strategis. Bagaimana itu bisa terlaksana, fungsi dari inteligen bisnis inilah yang menentukan.

 Ada dua main job atau tugas utama dari seorang agen inteligen bisnis, yaitu :

  1. mendapatkan informasi
  2. membentuk sebuah opini

 Pentingnya intelijen atau mata-mata atau spionase bisnis adalah informasi. Informasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan musuh yang sedang dihadapi dari sisi bisnis. Siapa mereka, apa tujuannya, seberapa besar kekuatan mereka ( berkaitan dengan,produk, modal, teknologi yang digunakan, sistem administrasi dan SDM ) apa rencana dan strategi mereka, dimana kelemahan mereka, dan dengan siapa saja mereka menjalin hubungan, dll.

Selain dari pada itu intelijen bisnis dituntut untuk mengetahui sejauh mana loyalitas pelanggan terhadap produk, merk dan jasa tertentu sekaligus segmentasi pasar.

 Informasi-informasi tersebut yang kemudian akan kita gunakan untuk menyusun strategi yang tepat untuk menghadapi dan bahkan mengalahkan mereka. Tanpa adanya informasi-informasi tadi, kita hanya bisa meraba, mengkira-kira dan menebak-nebak. Jauh akan lebih sulit bagi kita untuk menentukan tindakan dan strategi yang akan digunakan.

 Yang kedua, tugas intelijen selain mengumpulkan informasi, juga harus mampu membentuk sebuah opini publik terhadap produk kita maupun produk kompetitor. Pembentukan opini ini tergantung mau kita arahkan kemana. Apakah untuk memperbaiki dan menaikkan index persepsi baik/popularitas dari produk kita atau sebaliknya untuk menjatuhkan/melemahkan produk kompetitor. Pembentukan opini ini akan sangat berdampak signifikan terhadap kepercayaan dan loyalitas konsumen terhadap sebuah produk. Opini bisa diciptakan dan dimanipulasi. Pemilihan materi dan media sangat penting dalam proses ini. Dan itu adalah tugas dari para agen inteligen bisnis.

Tak jauh dari dunia perang, inteligen dalam dunia bisnis pun mutlak diperlukan agar roda bisnis kita tetap berjalan dengan baik. Tidak harus tujuannya “membunuh” dengan melakukan Offensive Inteligent, tapi cukup hanya untuk menjaga dan memastikan kelangsungan dan pertumbuhan positif bisnis kita (deffensif inteligent ). Bila kita masih menghormati etika bisnis dan praktek-praktek persaingan bisnis yang sehat, maka tidak perlu kita menggunakan intelijen kotor  . Berperang habis-habisan dan total, bukan berarti menghalalkan segala cara.

 Defensif intelijent maupun Offensif Inteligent bisnis tidak harus membuat kita berlaku curang dengan menyusup kedalam organisasi kompetitor dan mencuri ide dan gagasan mereka seperti halnya yang terjadi pada perusahaan Unilever yang menuntut Procter & Gamble (P&G) atas aktifitas mata-mata untuk mendapatkan rahasia bisnis perawatan rambut Unilever.

 Kita tidak bicara hal kotor seperti itu, karena bagaimanapun kerasnya “ belantara bisnis” dewasa ini yang namanya Business Etique tetap harus dijalankan sehingga informasi yang digunakan melalui intelijen kompetitif untuk menyusun strategi dan taktik tetap dijalankan dengan etis karena tujuan dari intelijen bisnis adalah bukan mencuri rahasia perusahaan kompetitor, rahasia pasar kompetitor ataupun properti rahasia lainnya. Tetapi merupakan sebuah teknik pengumpulan informasi secara sistematis, secara terbuka (legal) dalam jangkauan informasi yang begitu luas, yang ketika telah terseleksi dan disatupadukan serta dianalisa akan menyediakan sebuah pemahaman yang utuh tentang struktur perusahaan pesaing, budaya perusahaan, kebiasaan, kemampuan/kelebihan dan kelemahannya.

 Salah satu intelijen yang fair adalah mengamati pergerakan kompetitor  secara cermat melalui berbagai media legal maupun publisitas mereka. Biarpun informasi ini bersifat umum dan terbuka untuk semua orang, bukan berarti itu informasi yang tidak penting dan dangkal. Jika kita bisa mengolahnya dengan baik dan menganalisa dengan detail akan banyak hal yang bisa kita dapatkan dari hanya sekedar berita. Beranjak lebih jauh, kita bisa menjadi “konsumen” kompetitor juga dalam skala kepentingan investigasi. Sampai sejauh mana kualitas produk mereka, bagaimana price nya, dan bagaimana tingkat pelayanan pra dan pasca jual kepada pelanggan. Dengan memposisikan kita sebagai konsumen, akan kita dapatkan informasi yang qualify dan akurat dibandingkan dengan mengandalkan sumber lain.

 Dalam intelijen, prinsip “kenali dan dapatkan” adalah tujuan utama yang harus dicapai. Untuk bisa mencapai tahapan ini diperlukan :

 1. Orang yang tepat

2. Cara yang tepat

3. Tools/sarana dan media yang tepat

 

Minimal tiga point diatas harus bisa terpenuhi agar proses pengumpulan informasi dan pembentukan opini dapat berjalan dengan baik selain tentunya hal-hal lain termasuk juga besaran alokasi anggaran, timing yang tepat dan situasi eksternal masyarakat (ekopolsosbud).

 Pemilihan orang yang tepat, tidak harus berasal dari internal. Justru akan lebih leluasa dan bebas jika agen tersebut adalah orang luar yang kita didik dan tugaskan untuk mendapatkan informasi dibandingkan dengan orang dalam.

 Dalam mempengaruhi opini publik pun, akan lebih terasa realistis dan obyektif jika itu berasal dari kalangan luar organisasi kita. Tidak ada salahnya kita menggandeng tokoh keagamaan, budayawan, seniman bahkan seorang politisi untuk bisa menyuarakan opini seperti apa yang kita inginkan. Tentunya hal tersebut tidaklah gratis/cuma-cuma. Tapi bila kita memiliki konsep yang matang dengan hal tersebut, sepertinya anggaran/cost yang kita keluarkan akan sebanding  dengan hasil yang kita inginkan. Jaman sekarang bukanlah jaman pure bussines dimana bisnis berjalan sendirian melalui perangkat bisninya. Sekarang adalah jaman dimana segala sumberdaya yang bisa memuluskan jalan digunakan. Termasuk pengaruhnama besar, popularitas, kekuatan  politik dan jabatan dalam penentuan regulasi dan aturan mulai digunakan sebagai salah satu tangan dan tameng bisnis. Sekali lagi, mengingat etika bisnis yang harus kita patuhi, proses ini pun jangan sampai kebablasan dan salah kaprah yang membuat saling menjatuhkan dan membunuh pihak lain. Tapi cukup untuk memastikan ketidakberpihakan pemilik wewenang dan kekuasaan kepada salah satu kompetitor, menjamin terlaksananya persaingan yang sehat dan memberikan “sedikit” apresiasi dan opini positif dan obyektif terhadap produk dan jasa kita sehingga penilaian masyarakat/konsumen akan obyektif dan fair. (cbn, 10 feb 2009)

Daftar Referensi :

 http://www.suaramerdeka.com/harian/0508/24/opi04.htm

http://widyo.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/5561/Modul_ke_3_sim_PTIK.doc

http://indonesiafile.com/content/view/541/61/

http://intelindonesia.blogspot.com/2006/09/competitive-intelligence-ci.html

CoPas dari http://filosofijudi.wordpress.com/2009/06/03/intelijen-bisnis/

Posted in Uncategorized | Leave a comment

DECISION SUPPORT SISTEM

Sistem pendukung keputusan

Sistem pendukung keputusan (Inggrisdecision support systems disingkat DSS) adalah bagian dari sistem informasi berbasis komputer (termasuk sistem berbasis pengetahuan (manajemen pengetahuan)) yang dipakai untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi atau perusahaan.

Dapat juga dikatakan sebagai sistem komputer yang mengolah data menjadi informasi untuk mengambil keputusan dari masalah semi-terstruktur yang spesifik.

Menurut Moore and Chang, SPK dapat digambarkan sebagai sistem yang berkemampuan mendukung analisis ad hoc data, dan pemodelan keputusan, berorientasi keputusan, orientasi perencanaan masa depan, dan digunakan pada saat-saat yang tidak biasa.

Tahapan SPK:

  • Definisi masalah
  • Pengumpulan data atau elemen informasi yang relevan
  • pengolahan data menjadi informasi baik dalam bentuk laporan grafik maupun tulisan
  • menentukan alternatif-alternatif solusi (bisa dalam persentase)

Tujuan dari SPK:

  • Membantu menyelesaikan masalah semi-terstruktur
  • Mendukung manajer dalam mengambil keputusan
  • Meningkatkan efektifitas bukan efisiensi pengambilan keputusan

Dalam pemrosesannya, SPK dapat menggunakan bantuan dari sistem lain seperti Artificial Intelligence, Expert Systems, Fuzzy Logic, dll.

[sunting]Pranala luar

http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_pendukung_keputusan

 

 

 

 

SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN

(DECISION SUPPORT SYSTEM)

Definisi DSS:

1.Menurut Mann dan Watson, Sistem Penunjang Keputusan adalah Sistem yang interaktif, membantu pengambilan keputusan melalui penggunaan data dan model-model keputusan untuk memecahkan masalah-masalah yang sifatnya semi terstruktur dan tidak terstruktur.

2.Menurut Maryam Alavi dan H.Albert Napier, Sistem Penunjang Keputusan adalah suatu kumpulan prosedur pemprosesan data dan informasi yang berorientasi pada penggunaan model untuk menghasilkan berbagai jawaban yang dapat membantu manajemen dalam pengambilan keputusan.

3.Menurut Litle, Sistem Penunjang Keputusan adalah suatu sistem informasi berbasis komputer yang menghasilkan berbagai alternatif keputusan untuk membantu manajemen dalam menangani berbagai permasalahan yang terstruktur atupun tidak terstruktur dengan menggunakan data dan model.

4.Menurut Raymond McLeod, Sistem Penunjang Keputusan adalah sistem penghasil informasi spesifik yang ditujukan untuk memecahkan suatu masalah tertentu yang harus dipecahkan oleh manajer pada berbagai tingkatan.

5.Secara Umum, DSS adalah Sebuah sistem yang mampu memberikan kemampuan baik kemampuan pemecahan masalah maupun kemampuan pengkomunikasian untuk masalah semi terstruktur.

6.Secara Khusus, DSS adalah Sebuah sistem yang mendukung kerja seorang manajer maupun sekelompok manajer dalam memecahkan masalah semi-terstruktur dengan cara memberikan informasi ataupun usulan menuju pada keputusan tertentu.

Kata Kunci DSS:

1.Suatu sistem informasi spesifik yang ditujukan untuk membantu manajemen dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan persoalan yang bersifat semi terstruktur dengan memiliki fasilitas untuk menghasilkan berbagai alternatif yang secara interaktif dapat digunakan oleh pemakai.

2.Penggunaan model sebagai dasar pengembangan alternatif yang berkaitan dengan sifat permasalahan yang harus dipecahkan yaitu semi terstruktur atau bahkan tidak terstruktur.

3.Pemanfaatan komputer sebagai motor penggeraknya (computer based systems).

Karakteristik DSS:

1.DSS dirancang untuk membantu pengambil keputusan dalam memecahkan masalah yang bersifat semi terstruktur ataupun tidak terstruktur.

2.Dalam proses pengolahannya, DSS mengkombinasikan penggunaan model-model/teknik-teknik analisis dengan teknik pemasukan data konvensional serta fungsi-fungsi pencari/interogasi informasi.

3.DSS dirancang sedemikian rupa, sehingga dapat digunakan dengan mudah oleh orang yang tidak memiliki dasar kemampuan pengoperasian komputer yang tinggi.

4.DSS dirancang dengan menekankan pada aspek fleksibilitas serta kemampuan adaptasi yang tinggi, sehingga mudah disesuaikan dengan kebutuhan pemakai.

Manfaat DSS:

1.DSS memperluas kemampuan pengambil keputusan dalam memproses data/informasi bagi pemakainya.

2.DSS membantu pengambil keputusan dalam penghematan waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah.

3.DSS dapat menghasilkan solusi dengan lebih cepat serta hasilnya dapat diandalkan.

4.DSS mampu menyajikan berbagai alternatif.

5.DSS dapat menyediakan bukti tambahan untuk memberikan pembenaran sehingga dapat memperkuat posisi pengambil keputusan.

Keterbatasan DSS:

1.Beberapa kemampuan manajemen dan bakat manusia yang tidak dapat dimodelkan.

2.Kemampuan terbatas pada pembendaharaan pengetahuan yang dimilikinya.

3.Proses tergantung pada peragkat lunak yang digunakan.

4.Tidak memiliki kemampuan intuisi (berpikir) seperti pada manusia.

http://koernia05.wordpress.com/2008/12/22/sistem-informasi-penunjang-keputusan-decision-support-system/

Posted in Uncategorized | Leave a comment